IndonesiaBerdaulat.com, Bandung – Virtual Reality (VR) kini tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi juga mulai dikembangkan sebagai teknologi yang dapat menghadirkan pengalaman simulasi dan pembelajaran secara lebih imersif.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) turut mengembangkan pemanfaatan teknologi tersebut melalui berbagai riset di bidang sains data dan informasi.
Pembahasan mengenai teknologi VR menjadi bagian dari webinar DESAIN (Dialog Eksplorasi Sains Data dan Informasi) yang digelar BRIN pada Rabu (23/9/2026).
Kegiatan tersebut mengangkat tema “Pemanfaatan Virtual Reality (VR) sebagai Media Imersif dan Interaktif”.
Melalui Pusat Riset Sains Data dan Informasi, BRIN membahas peluang VR dalam menyajikan data dan informasi yang kompleks melalui pengalaman visual yang lebih interaktif.
Teknologi ini juga dinilai memiliki potensi untuk mendukung pengembangan interaksi manusia dan komputer secara lebih natural.
Kepala Pusat Riset Sains Data dan Informasi BRIN, Esa Prakarsa, menjelaskan bahwa teknologi VR dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan simulasi pada kondisi yang sulit dilakukan secara langsung.
Menurutnya, keterbatasan ruang, waktu, biaya, maupun faktor keselamatan dapat menjadi pertimbangan dalam penggunaan simulasi berbasis VR.
“Misal dapat dimanfaatkan untuk simulasi evakuasi saat terjadi bencana tsunami, gempa bumi, kebakaran, huru-hara, dan sebagainya. Simulasi perjalanan melihat sejarah peradaban Indonesia di masa lampau. Simulasi melakukan perjalanan ke antariksa, hutan ekstrim, maupun laut dalam,” terang Esa.
Penggunaan VR juga memungkinkan pengguna berinteraksi dengan lingkungan virtual tanpa harus berada secara fisik di lokasi yang disimulasikan.
Esa menilai karakteristik tersebut membuat VR berpotensi digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari sosialisasi, pembelajaran, promosi hingga pengujian terhadap suatu konsep atau kondisi tertentu.
“Misalnya pengenalan objek wisata baru, pengenalan perilaku sehat dan aktivitas olahraga,” kata Esa.
Peneliti Ahli Madya Bidang Multimedia Pusat Riset Sains Data dan Informasi BRIN, Yudhi Rezaldi, mengatakan pengembangan VR berkaitan dengan kebutuhan manusia terhadap media yang mampu menghadirkan pengalaman lebih nyata dan interaktif.
“Dengan VR, pengguna tidak hanya melihat informasi, tetapi bisa merasa seperti berada langsung di dalam suatu lingkungan virtual. Teknologi ini juga berguna untuk simulasi yang sulit, mahal, atau berisiko jika dilakukan secara langsung,” terang Yudhi.
Salah satu riset yang tengah dikembangkan Yudhi dan tim adalah “Immersive Tai Chi for Home-Based Exercise in Older Adults: Usability and Feasibility Study”.
Riset tersebut berangkat dari kebutuhan terhadap aktivitas olahraga yang aman dan mudah diakses oleh kelompok lanjut usia.
Dalam penerapannya, olahraga konvensional dapat menghadapi sejumlah kendala sehingga teknologi VR/MR menjadi salah satu alternatif yang diteliti.
Namun, penggunaan teknologi tersebut tidak serta-merta dapat diterapkan secara luas. Aspek kenyamanan, kemudahan penggunaan, keamanan serta potensi cybersickness pada pengguna lansia perlu dikaji terlebih dahulu.
“VR/MR Tai Chi menawarkan solusi latihan berbasis rumah, tetapi usability, kenyamanan, cybersickness, dan keamanan pengguna lansia perlu diuji terlebih dahulu sebelum teknologi tersebut dapat diterapkan secara luas,” ujar Yudhi.
Yudhi menjelaskan, penelitian tersebut menyasar lansia berusia 60 tahun ke atas yang tinggal secara mandiri di lingkungan komunitas.
Tujuan penelitian adalah melihat sejauh mana VR/MR Tai Chi dapat digunakan sebagai alternatif latihan di rumah dengan mempertimbangkan aspek kenyamanan, keamanan, dan efektivitas.
“Tujuannya adalah mengevaluasi apakah VR/MR Tai Chi dapat digunakan secara nyaman, aman, dan efektif sebagai alternatif latihan di rumah, terutama untuk mendukung healthy aging dan aging in place,” ungkap Yudhi.
Pengembangan tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan VR tidak terbatas pada permainan atau hiburan. Teknologi ini juga dapat diarahkan untuk mendukung kesehatan dan aktivitas fisik kelompok masyarakat tertentu.
Ke depan, penggunaan VR diperkirakan dapat berkembang seiring peningkatan kemampuan perangkat dan kemudahan penggunaannya.
Integrasi dengan teknologi lain, seperti Artificial Intelligence (AI) dan sensor gerak, juga dapat menghasilkan pengalaman virtual yang semakin responsif.
Yudhi menyebut semakin terjangkaunya perangkat VR dapat membuka peluang pemanfaatan yang lebih luas. Bidangnya mencakup pendidikan, pelatihan kerja, kesehatan, keselamatan hingga pelayanan masyarakat.
Dalam webinar DESAIN tersebut, BRIN juga menghadirkan sejumlah narasumber lain. Budianto dari PT WIR Asia Tbk. membahas teknologi imersif yang mencakup Augmented Reality (AR), Virtual Reality (VR), dan Artificial Intelligence (AI).
Sementara itu, Yusup Sigit Martyastiadi, Dosen Desain Interaksi Program Studi DKV Universitas Multimedia Nusantara (UMN), mengangkat materi “VR Borobudur Game: From Spiritual to Virtual”. **













