Imigrasi Soetta Bekali 500 Pelajar Cegah TPPO Sejak Dini

Madalin
Petugas Imigrasi Soekarno-Hatta memberikan edukasi keimigrasian kepada pelajar dalam kegiatan Pimpasa Goes to School di Jakarta.
Sebanyak 500 pelajar dari SMAN 84 dan SMKN 53 Jakarta mengikuti edukasi keimigrasian dan pencegahan TPPO melalui program Pimpasa Goes to School. (Imigrasi Sotta)

IndonesiaBerdaulat.com, Tangerang – Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno-Hatta menggelar program Pimpasa Goes to School sebagai upaya meningkatkan literasi keimigrasian sekaligus mencegah Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan perekrutan ilegal ke luar negeri sejak usia sekolah.

Kegiatan yang dilaksanakan pada 22–23 September 2026 tersebut diikuti 500 pelajar dari SMAN 84 Jakarta dan SMKN 53 Jakarta.

Edukasi disampaikan oleh Bidang Intelijen dan Penindakan Keimigrasian (Inteldakim) selaku pengampu Petugas Imigrasi Pembina Desa (Pimpasa).

Melalui sosialisasi ini, para siswa dibekali pemahaman mengenai prosedur resmi keimigrasian, cara memverifikasi legalitas tawaran bekerja maupun belajar di luar negeri, hingga mengenali berbagai modus perekrutan ilegal yang kerap menyasar generasi muda.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno-Hatta, Galih P. Kartika Perdhana, menegaskan bahwa pencegahan TPPO tidak cukup dilakukan melalui pengawasan di bandara atau pintu keluar negara.

Menurutnya, pendidikan sejak dini menjadi benteng utama agar pelajar mampu mengambil keputusan yang aman ketika memiliki rencana ke luar negeri.

“Pencegahan TPPO tidak cukup dilakukan melalui pengawasan di pintu keluar negara. Edukasi harus dimulai sejak dini, termasuk di lingkungan sekolah. Kami ingin para pelajar memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengenali tawaran yang berisiko, memastikan legalitasnya, dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi,” ujar Galih.

Ia menjelaskan, pelajar perlu memahami bahwa setiap tawaran pekerjaan, magang, pendidikan, maupun kegiatan lain di luar negeri harus dipastikan legalitasnya melalui jalur resmi sebelum menerima atau menandatangani dokumen apa pun.

Pelaksanaan hari pertama berlangsung di SMAN 84 Jakarta, Kalideres, dengan melibatkan 150 peserta yang terdiri dari guru dan siswa kelas XII.

Wakil Kepala SMAN 84 Jakarta, Priyono, S.Pd., M.M., menilai materi yang diberikan sangat relevan karena memperkenalkan siswa pada isu paspor, keimigrasian, hingga risiko TPPO yang kini semakin kompleks.

“Menyambut baik kegiatan ini, tentunya ini kegiatan yang positif karena memberikan edukasi kepada putra-putri kami tentang hal-hal yang terkait dengan keimigrasian, misalnya paspor ataupun isu lainnya. Terima kasih atas kehadirannya, mudah-mudahan memberikan dampak yang positif bagi siswa kami,” ujar Priyono.

Pada hari kedua, kegiatan berlanjut di SMKN 53 Jakarta, Cengkareng, dengan diikuti 350 siswa dari kelas X hingga XII.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Nuropik, mengapresiasi program tersebut karena memberikan bekal penting bagi siswa yang memiliki cita-cita bekerja di luar negeri setelah lulus.

“Kami sangat mengapresiasi kehadiran tim Imigrasi Soekarno-Hatta di SMKN 53 Jakarta. Sosialisasi ini memberikan manfaat yang luar biasa, khususnya bagi siswa-siswi kami yang berencana atau sedang berproses untuk bekerja di luar negeri. Edukasi terkait bahaya TPPO dan TPPM ini menjadi bekal informasi yang sangat berharga bagi mereka, terutama siswa kelas 12,” tuturnya.

Dalam sesi diskusi, para peserta aktif mengajukan pertanyaan mengenai prosedur melanjutkan pendidikan di luar negeri, pembuatan paspor, hingga mekanisme pemeriksaan Warga Negara Indonesia (WNI) di Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI).

Sebagai bagian dari kampanye pencegahan, petugas memperkenalkan Pimpasa sebagai sarana komunikasi antara masyarakat dan Imigrasi dalam mendukung pengawasan keimigrasian.

Para pelajar juga dibekali tiga prinsip utama sebelum bepergian ke luar negeri:

• Cek legalitas setiap informasi atau tawaran.

• Teliti kelengkapan dokumen perjalanan dan administrasi.

• Lapor apabila menemukan indikasi perekrutan ilegal atau kejanggalan.

Melalui program ini, Imigrasi Soekarno-Hatta berharap semakin banyak generasi muda yang memahami prosedur keimigrasian secara benar, mampu melindungi diri dari praktik perdagangan orang, serta menjadi bagian dari upaya pencegahan kejahatan transnasional sejak dini. **

Penulis: K'WauEditor: Madalin Maulisa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *